I’m not for everyone, just like how everyone is not for me

Tentang Nilai Personal (Value)

Ada hal yang aneh yang aku jumpai beberapa waktu terakhir ini. Entah apa pun yang kita lakukan, entah kita berprofesi sebagai desainer, penulis, kreator, dan bahkan seniman, ada semacam ekspektasi bahwa kita perlu diterima oleh semua orang.

Ekspektasi macam itu––menurut pandangan pribadiku––merupakan ekspektasi yang TIDAK sehat, dan TIDAK mungkin dipenuhi oleh siapa pun yang hidup dan bernafas di atas muka bumi ini.

Yes, I digress… lol.

Aku sebagai penulis, tidak mungkin menyenangkan hati semua pembaca. Kamu sebagai pembaca, tidak mungkin menyukai semua penulis dan semua karyanya, pasti ada salah satu atau beberapa diantara semua karya yang sudah kamu baca yang lebih berkesan dan menyentuh dibanding yang lain.

Jadi maksudku begini, aku tidak bisa menulis untuk semua orang, sebagaimana pembaca tidak mungkin menyukai semua penulis.

 

Nilai Personal i.e Personal Value

Aku rasa banyak pembaca dari Indonesia yang kurang paham dengan hal ini. Personal value atau nilai pribadi adalah dasar dari semua pilihan, motivasi dan ciptaan/kreasi seseorang.

Aku sebagai penulis, akan memilih tema, pesan, bahkan juga jalan cerita, dari personal value yang aku miliki. Entah aku menyadari apa saja nilai-nilai itu atau tidak.

Kamu sebagai pembaca, akan memilih bacaan dan penulis yang merefleksikan personal value yang kamu miliki. Entah kamu menyadari apa saja nilai-nilai itu atau tidak.

Kita semua pasti punya personal value. Secara sadar atau tidak sadar, kamu akan menjalani hidupmu dengan personal value tersebut. Kamu akan memilih berdasarkan personal value itu, motivasi kamu saat mengerjalan sesuatu berdasarkan personal value itu, bahkan kamu akan menentukan cita-cita dan masa depanmu dengan personal value itu.

Sayangnya, banyak orang yang aku temui di atas bumi ini selama hampir 30 tahun, tidak sadar akan personal value yang mereka miliki. Kesibukan mungkin jadi alasan mereka tidak punya waktu untuk duduk dalam diam dengan diri mereka, mencari apa yang sesungguhnya mereka hargai dalam hidup, serta apa yang membuat mereka berbeda dari penghuni bumi lainnya.

Sayangnya juga, dari percakapan bersama orang yang lahir-tinggal-bersekolah-dan-hidup di Indonesia, aku mendapati kalau hal ini tidak diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia.

Hah? Apa yang gak diajarkan di sekolah Indonesia, emangnya?” Kamu bertanya.

Ya itu, personal value. Kamu gak diajarkan tentang hal itu di sekolah-sekolah formal di Indonesia. Kebanyakan orang yang sadar akan hal tersebut, merupakan tipe orang yang suka mengamati tingkah laku dan cerita-cerita dari kehidupan orang lain, atau rajin membaca buku dan tidak sok tahu dan asal “kepo”––terutama tentang hidup orang lain.

Tapi siapa yang punya waktu untuk bahas personal value sekarang. Pengalaman mengajarkanku bahwa hampir sebagian besar orang Indonesia tidak punya waktu akan hal ini.

”Dih! Apaan sih? Pusing ah!” Ungkap Juniper, Bambang dan Yanto nyaris bersamaan.

….and yet they still complain why their life is so miserable.

Punya personal value dan stay true to it, bukan perkara yang mudah, apalagi di Indonesia. Ada sebuah thesis hasil penelitian yang aku baca beberapa waktu lalu dari The Conversation mengungkapkan, kalau budaya kolektif orang Indonesia sering kali menyudutkan orang yang berbeda dari mayoritas.

Misalnya, saat kamu satu-satunya orang yang sadar akan personal value yang kamu miliki, tidak menutup kemungkinan, orang-orang yang tidak sadar akan personal value mereka dalam lingkunganmu, seperti Jupiner, Bambang, dan Yanto, akan membuatmu merasa salah sendiri. Bukan sekedar “serba salah” ya, tapi kamu “salah pokoknya”.

 

I know my personal value, therefore, I am not for everyone.

Aku sering disebut penulis edgy [1]––nyaris-nyaris mental breakdown––karena sering memberi komentar sosial terutama tentang perilaku masyarakat Indonesia secara kolektif. Maka, ya… mungkin aku edgy––berdasarkan kamus orang seperti Juniper, Bambang dan Yanto.

Sebab jujurly, aku memang nyaris mental breakdown melihat kelakuan Juniper, Bambang dan Yanto.  Like, honestly though, who doesn’t?

Menjadi penulis dari Indonesia, dengan gate keeper super ketatnya dan perilaku masyarakatnya yang seperti ini, bukan hal yang mudah. Apalagi nepotisme tidak hanya mewarnai kancah politik, tapi juga dunia penulisan. Mereka mau karya penulis yang udah punya nama, udah pasti laku, udah pasti cocok untuk Juniper, Bambang dan Yanto.

Tapi aku mau sesuatu yang berbeda. Tujuanku bukan kesana. Aku tahu kalau pasar bisa diciptakan dan sejarah sudah mencatat kalau mereka yang hanya mengikuti selera pasar, tidak akan bertahan lama.

Tentunya dengan komentar tentang perjalanan menulisku yang akan diungkapkan dalam bab selanjutnya di series ini, kamu akan mengerti kenapa usaha dan waktu yang sudah aku limpahkan untuk setiap judul, akan sia-sia jika aku mengukur kelangsungan di jangka pendek saja.

Ketika aku menyadari personal value yang aku miliki, aku meyakini bahwa penerbitan tradisional bukan jalan yang tepat bagiku. Aku menyadari kalau cerita komersil juga bukan warna yang cocok untuk tulisanku. Dan target pasar yang se-level Juniper, Bambang dan Yanto, bukan tipe-tipe orang yang ingin aku ajak bicara lewat karyaku.

Ada banyak penulis lain yang mau mengajak mereka bicara, tapi aku tahu, aku tidak mau bicara dengan mereka.

Lewat personal value yang aku miliki, aku jadi menyadari alasanku menulis.

Aku menulis untuk keponakanku dan anak-anak mereka nantinya. Aku menulis untuk mereka yang suaranya jarang terdengar hari ini dan setelahnya. Serta, aku menulis untuk mengenal diriku yang kemarin, hari ini, besok, dan seterusnya.

Maka biarlah penulis lain yang bicara dengan Juniper, Bambang dan Yanto tentang masalah hidup mereka.

Selain mereka, yuk kita duduk ngopi-ngopi dalam series ini!

Cara Daftar jadi MemberRegister

 

If this long explanation and disclaimer is well understood, let’s proceed.

Melalui series “If I’m Being Honest about Everything” ini, aku akan mengungkapkan pandangan pribadiku tentang banyak hal yang aku temui dalam kehidupanku sehari-hari. Anggaplah series ini seperti laporan pengamatan dan pengalaman.

Dan agar-supaya-oleh-karena, aku tidak mungkin menyenangkan semua orang, some might find the content of this series as triggering or insulting. Maka, jadilah pembaca yang bijak. Gitu aja sih intinya.

Jadi, jangan ribet ya Juniper, Bambang dan Yanto. In a nutshell, this series is never meant for you. I respect you, that’s why I make this long explanation and disclaimer. 

_________

[1] Istilah “Edgy dalam kamus urban yang sesungguhnya, menggambarkan sikap individu atau kelompok orang yang meyakini dirinya adalah Sasuke dalam serial anime dan manga Naruto. Mereka sering mengatakan “I’m so broken home, I have no feelings like friendship or love for anyone.”

Namun istilah ini bergeser maknanya dalam kamus orang-orang yang “agak laen” dan “agak geser”.

Istilah “Edgy” jadi sering digunakan di lingkungan urban di Indonesia untuk melabeli individu atau kelompok orang yang memberi komentar seputar masalah sosial, politik, dan kebijakan demi kepentingan bersama.

Penyalahgunaan istilah ini––menurut pandanganku––tidak hanya harmful (melukai) kemajuan bangsa yang sepertinya lupa kalau masih “ngembang” tapi juga melukai movement (gerakan) yang mendorong adanya kebijakan dan inovasi yang produktif.

If I’m Being Honest About Everything

If I’m Being Honest About Everything

Katia Elson’s Journal
Status: Ongoing Type: Author: Released: 2023 Native Language: Mix
My unsolicited commentary on writing, art, culture, design, and the industry itself. Written in super honest and genuine way. The content of this journal is not for everyone. It’s rated “Mature” as in “Emotionally Mature”. Oh, and I’m bad with words…so… sometimes I use pictures and sketch. Even though this synopsis is written in English, the series of essays inside is in Bahasa. Why? Because that’s the perks of being a bye-lingual.

Comment

Leave a Reply

Options

not work with dark mode
Reset