Inhumane – Chapter 1

The Issues of Morality

Sewaktu aku masih muda dan rapuh dulu, ibuku pernah memberi sebuah nasehat yang sampai saat ini masih terus terngiang dalam benakku.

“Jangan mau dibeli dengan uang,” katanya padaku, “bila kau menerima uang dari orang lain, mereka pasti merasa berhak mengatur hidupmu.”

Aku tahu, pada waktu itu, ibuku mengingatkan soal beasiswa yang kuterima dari pemerintah. Karena beasiswa itu aku bisa bersekolah tinggi, lebih tinggi darinya, bahkan dari saudara jauhku yang lebih kaya. Aku beruntung memiliki otak yang cemerlang, sehingga mendapatkan beasiswa yang sangat sulit didapat menjadi hal yang mudah bagiku.

Saat itu aku masih bodoh, belum mengerti sepenuhnya nasehat ibu. Belum lagi kami sering berbeda pendapat dan sering bertengkar. Aku tahu ibu dan mendiang ayah tiriku tidak suka dengan pemimpin negeri ini, Mephisto. Walau begitu aku masih memikirkan nasehat ibu. Sebagai akibatnya, setelah lulus bersekolah aku tidak bercita-cita bekerja di perusahaan orang lain. Aku memilih membuka usaha sendiri di kota. Kecil, tidak besar, tapi pelangganku banyak dan setia. Setidaknya selama dua tahun lebih aku bisa hidup sendiri dengan asisten pribadiku, tanpa mengemis uang sepeser pun dari ibu dan ayah tiriku di desa. Malah, aku bisa memberi uang pada orang tuaku.

Tapi hidup manusia memang soal belajar, secepat atau selambat apa pun prosesnya tidaklah penting, yang terutama adalah tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kalau hari itu aku merasa beruntung, sekarang sudah tidak lagi. Apa yang dulunya kuanggap sebagai berkah, kini yang kurasa adalah kutukan. Hari-hari semenjak peristiwa di musim dingin itu, dunia tidak pernah terasa sama lagi. Kurasa, tak ada satu pun manusia yang tidak akan berubah setelah melihat ganasnya api neraka. Mereka akan berjalan kembali ke dunia dengan sorot mata yang berbeda, semangat yang berbeda, dan penyesalan yang berbeda pula. 

Aku pun berbeda, aku sudah tidak bisa sama lagi seperti dulu, sewaktu aku masih memiliki semangat muda yang membara di dadaku. Apa jadinya aku sekarang ini selain onggokkan daging tanpa tulang, manusia yang tidak hidup, namun belum mau mati pula. Sudah tiga bulan aku menganggur, tidak ada pekerjaan, alih-alih pemasukan, dan setiap malam aku menghabiskan uangku membeli alkohol, rokok, dan wanita. Persetan dengan makan, tubuhku kurus pun aku sudah tak peduli rasanya. 

Dan dalam tiga bulan itu, aku telah menghabiskan seluruh uangku, tabunganku, dan mau tak mau aku kembali ke rumah orang tuaku di desa. Seharusnya, keadaanku lebih baik di sini, tapi ternyata aku telah salah memperhitungkan. Setelah tiga bulan hidup dalam awang-awang untuk melupakan peristiwa itu, aku kembali ke desa hanya untuk mengingatkan diriku pada rentetan kejadian mengerikan itu lagi.

Aku lupa, ayah tiriku sudah meninggal. Walau hanya ayah tiri, tetapi aku sangat menyayanginya. Almarhum mengajariku banyak hal, misalnya, bagaimana menjadi wanita yang tidak mudah dipermainkan laki-laki, dan yang paling penting, ayah tiriku itu pernah mengisi kekosongan di hati kecilku, bagian dari diriku yang merindukan peranan seorang bapak. Kepergiannya berbarengan dengan terjadinya tragedi itu, tragedi yang merubah segalanya. Alih-alih menjadi tenang, rasanya aku sedang berdiri di tepi jurang neraka yang menganga. Tidak adanya kehadiran almarhum di rumah, justru memperjelas keadaan yang sudah tidak akan kembali lagi seperti dulu. Semuanya. Segala-galanya telah berubah. 

Maka kuhabiskan saja satu minggu pertama di desa dengan tidur, dan minum. Begitu seperti itu sampai sisa-sisa koin di kantung mantelku sudah tidak ada lagi–harga minuman dan pelacur sangat murah di desa. Sampai benar-benar hitam kantung mataku ini, dan akhirnya mengundang keprihatinan di hati ibuku. Ibuku akhirnya yakin bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

Pagi-pagi sekali, ibu dan pamanku sudah bersiap-siap pergi. Mereka membangunkanku, ibuku sampai repot-repot memandikanku, karena aku masih terlalu mengantuk untuk membersihkan diri. Mereka membawaku ke rumah seseorang yang dulu paling aku segani, Profesor McCallum. Aku biasa memanggilnya dengan Cal, atas permintaannya dan karena kami sudah sangat akrab.

Profesor tua itu masih belum berubah sama sekali dari terakhir kali aku melihatnya–mungkin tujuh tahun lalu, saat aku meninggalkan desa untuk bersekolah di kota–dan merasakan kembali pelukan hangatnya ketika menyambutku, serta melihat tatanan rumahnya yang tidak berubah sama sekali, baru membuatku benar-benar merasa ada di desa. 

Setelah makan siang dan basa-basi bersama, Cal mengajakku duduk di ruang kerjanya, sementara ibu dan pamanku bersama dengan Daisy–anak profesor–beristirahat di ruang tengah. 

“Kota sudah berubah, ey?” Aku tahu Cal sedang memancingku untuk berbicara. Aku tidak menyahut, aku hanya diam dan mengusap-usap mataku seperti orang bodoh. Aku pura-pura tidak mengerti pertanyaannya.

Namun Profesor McCallum bukan orang bodoh, dan pria tua itu tahu, aku bukan orang bodoh. Di desa sekecil ini, hanya ada dua orang terpelajar yang pernah bersekolah tinggi sampai universitas, dan berkelana sampai ke kota, yaitu, aku dan dia. Sebelumnya, ayah tiriku juga termasuk di antara kami. Tapi ayahku sudah tiada.

“Ibumu gusar,” ujar Cal pada akhirnya. “Ibumu takut dia yang membuatmu tidak bahagia di sini. Apa ini tentang kepergian Theo?”

Theo adalah nama ayah tiriku. Aku menggeleng. Tentu saja kematian memang tidak terelakkan, dan aku punya alasan lain untuk tidak berpartisipasi dalam dunia.

“Lalu apa?” Cal menaikkan kedua alisnya, seolah aku ini adalah spesies langka yang baru pertama kali ia lihat. “Marien?” Cal memanggil namaku, mendesakku untuk menjawab.

“Segalanya, Cal,” ujarku padanya, “segala yang telah terjadi di kota musim dingin tahun lalu itu telah merubah segalanya.”

“Ah,” sahut Cal setelah agak berapa lama. Profesor tua itu tampaknya langsung mengerti, bahkan sampai menghela nafas lega. Mungkin ia lega karena ini bukan soal kematian, masalahku masih seputar kehidupan. Dan bagi Cal, selama masih ada dalam alam yang sama, masalah itu masih bisa diatasi. 

“Ibumu bercerita padaku atas keresahannya saat kau menerima beasiswa dari pemerintah itu,” Cal bercerita sambil menerawang keluar jendela, seolah sedang menatap kembali ke masa lalu, “Theo dan Christine memang tidak suka dengan pemerintahan Mephisto, jadi aku tidak terlalu mendengarkan curahan hati mereka. Namun rupanya ada benarnya perasaan mereka itu.”

Tentu saja, pikirku dalam hati. Aku memang tidak memikirkan tawaran itu matang-matang. Aku bahkan tidak memikirkan pertimbangan kedua orang tua ku. Mereka hidup lebih lama dariku, seharusnya mereka memang lebih tahu. Nasehat ibu ada benarnya, jiwaku telah tergadai. Aku telah lalai dalam kesombonganku, merasa bahwa aku adalah wanita desa paling beruntung dan paling cerdas.

“Marien,” panggil Cal, menarik perhatianku. Wajah Cal berubah dari tenang menjadi penasaran, “kalau boleh aku tahu, apa sebenarnya yang terjadi tahun lalu itu? Siapa sebenarnya yang membunuh para anggota pemerintahan?”

Aku menelan ludah. Entah sudah berapa lama aku ingin seseorang menanyakan hal itu padaku. Setelah sekian lamanya menanti, akhirnya seseorang yang tepat, menginginkan kebenaran itu keluar dari mulutku. Haruskah aku menceritakannya? Aku masih meragu. Pasti akan ada harga yang harus ku bayar lagi setelah mengungkapkan kebenaran pahit dan tragedi luar biasa yang telah membuat duniaku berputar balik tidak karuan.

“Kau bisa bercerita padaku,” ujar Cal tenang.

“Terlalu banyak, Cal,” sahutku, “terlalu banyak yang tersimpan dan tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata.”

Pria tua yang duduk di hadapanku itu tersenyum, seolah mengerti bagaimana rasanya menjadi orang sepertiku. Terkutuk. Mungkin dia memang tahu. Bagaimana pun, hanya aku dan dia yang memiliki bekal keilmuan untuk melihat masalah moral di negeri yang telah hancur ini.

“Bagaimana bila kita mulai dengan pertanyaan?” kalimat klasik dari Cal akhirnya terucap. Pertanyaan tentang pertanyaan. “Apa yang terjadi setelah kau dan muda-mudi lainnya dipanggil? Lalu kau bisa melanjutkan sisanya.”

Aku menarik nafas dalam, menghitung mundur dari lima hingga satu, sebelum akhirnya memulai ceritaku.

Inhumane

Inhumane

Score 6
Status: Completed Type: Author: Released: 2017 Native Language: Bahasa Indonesia
Musim dingin tahun lalu, muda-mudi yang pernah menerima beasiswa dari pemerintah, tiba-tiba dikumpulkan untuk membantu polisi menangani kasus pembunuhan sadis yang menargetkan para Jendral, anggota partai politik, dan para mentri. Marien adalah salah satu penerima beasiswa itu, dan ia mau tak mau terlibat dalam penyelidikan. Anehnya, setelah kasus itu dinyatakan usai, Marien berubah menjadi pemurung. Hanya Marien satu-satunya yang tidak bisa merasa bahagia saat penjahatnya telah ditangkap. Sepertinya ada hal yang Marien ketahui, namun tidak dapat ia ungkapkan pada sembarang orang. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pembunuh berdarah dingin itu? Dan apa yang diketahui oleh Marien sampai tak mudah diceritakan pada orang lain? [[KEBIJAKAN PEMBACA SANGAT DISARANKAN. This story contains graphic depictions of violence, sexuality, strong language, and/or other mature themes.]]   WRITERS OF TOMORROW © ALL RIGHTS RESERVED

Comment

Leave a Reply

Options

not work with dark mode
Reset