Inhumane – Chapter 2

Mischief

Hidup sebelumnya terasa mudah. Segera setelah aku menyelesaikan pendidikanku, aku tenggelam dalam kesibukan, menikmati profesiku sebagai konsultan bisnis di kota. Kemampuanku serta pendidikanku dalam bidang sosial dan budaya benar-benar menjadi bekal yang berarti. Aku mencari uang sendiri dari situ. Memberi saran pada orang lain tentang apa yang seharusnya mereka lakukan dengan uang mereka.

Sebetulnya, orang-orang sepertiku, yang pernah menerima beasiswa dari pemerintah, tidak perlu pusing mencari pekerjaan. Kami bisa mendapatkan tempat dengan mudah di badan usaha milik pemerintah, menjadi mentri, atau bahkan menjadi polisi dan tentara. Sayangnya aku tahu dimana keahlianku akan berguna, yang jelas bukan di dunia politik. Aku sudah kenyang mendengar celotehan orang-orang desa mengenai Partai Merah dan pemimpin mereka, Mephisto. Bahkan ibu sempat melarangku menerima beasiswa dari pemerintah karena takut itu hanya akal-akalan orang Partai Merah untuk mempengaruhi pikiran-pikiran anak muda sepertiku. Sampai hari itu, aku masih menganggap semuanya omong kosong. Aku memilih untuk tidak memihak, seperti kata ibu dan ayah tiriku; menjadi manusia independen supaya tidak bisa diatur orang lain.

Tentu saja, awalnya, tidak banyak yang percaya pada jasaku karena aku belum memiliki nama. Untungnya kabar lebih cepat menyebar di kota, terutama di kalangan orang kaya. Lambat laun banyak klien yang merekomendasikan jasaku ke kerabat-kerabat mereka. Aku hanya berdua saja dengan asistenku, Elizabeth. Dia lebih tua dariku, sedikit, tapi sangat bersemangat bila dibandingkan denganku. Berkat kekompakan kami berdua, kini pendapatan kami sudah bertambah 3 kali lipat hanya dalam kurun waktu satu setengah tahun. Sisanya, semua berjalan dengan sendiri bagaikan mesin otomatis.

Ketika hidup tiba-tiba begitu tenang, kau tahu akan ada sesuatu yang terjadi. Cepat atau lambat, kedamaian itu harus diusik, karena demikianlah Alam Semesta ini bekerja; dimana ada keteraturan, akan ada kekacauan. Maka, pada Rabu sore, minggu kedua, di bulan Oktober, tepat sebelum aku pulang dari kantor, stasiun televisi di seluruh penjuru kota menyiarkan berita darurat; kepala kepolisian negara telah dibunuh dengan sadis. Jendral Gilliard Marcus telah mati. Semua hending. Rasanya ada sebuah ledakan kosmik yang sedang terjadi di luar angkasa. Mungkin kau tidak bisa mendengar suaranya sekarang, namun kau tahu bahwa efeknya sangat dasyat dan radiasinya akan menyebar kemana-mana.

Tak lama setelah semua berita itu menggemparkan negeri ini, mungkin tiga hari setelahnya, aku mendapatkan telepon dari kepolisian. Nada bicaranya menandakan desakkan yang tak dapat dihindari. Mereka, pemerintah, meminta orang-orang yang pernah mendapatkan beasiswa untuk membantu kepolisian mencari penjahatnya. Mereka sangat yakin kalau pembunuhan sadis itu tidak akan terjadi sekali.

“Anda akan dijemput tepat pukul 4 sore di kediaman Anda,” ujar suara pria di telepon itu.

Aku tidak sempat menjawab sebelum pria itu menutup sambungan teleponnya. Bagiku saat itu, tidak ada yang lebih aneh daripada menyuruh orang-orang yang belum tentu tahu cara menyelidiki kasus untuk menyelesaikan masalah yang genting itu. Aku sudah bisa menangkap keanehannya dari panggilan telepon itu saja.

Elizabeth akan mengambil alih biro jasa kami selagi aku pergi. Selama aku menyiapkan barang-barangku–karena kami kebetulan juga tinggal bersama–dia bercanda tentang bagaimana aku menyukai novel-novel detektif dan suspense. Katanya, “mungkin ini kesempatanmu untuk membuktikan kemampuan analisismu bukan?” Aku yakin dia hanya berusaha menghilangkan ketegangan yang sedang melandaku. Selama ini, biro jasa yang kami miliki saja sudah cukup untuk membuktikan kemampuan analisa ku. Aku sudah biasa melihat berita, mengamati perkembangan politik, hingga naik turunnya harga index. Bagaikan cenayang, aku dapat memprediksi masa depan. Dan entah kenapa, kematian anggota pemerintah di masa-masa yang cukup sulit itu, tidak mengagetkanku.

“Aku justru takut karena tidak bisa mengerti mengapa mereka meminta para penerima beasiswa terlibat,” aku tak memiliki pilihan lain selain menceritakan keresahan hatiku pada kawanku itu. “Perasaanku tidak tenang.”

Elizabeth hanya tersenyum pahit, tidak mengatakan apa-apa, namun sentuhan tangannya di punggungku membuat otot-ototku rileks, seperti ada energi semangat yang ia berikan padaku melalui permukaan kulit kami yang bertemu. Aku yakin dia pun mengerti, namun aku tetap berharap semoga kegelisahanku tidak tertular padanya. Di saat seperti itu, lebih baik dia tetap optimis. 

Beberapa jam kemudian aku sudah berada di Kamp, fasilitas rahasia milik pemerintah. Pada dasarnya Kamp adalah lapangan luas yang dipasangi banyak tenda-tenda untuk kami tinggal dan membantu polisi hingga badan intel. Tak ku sangka ada banyak sekali orang-orang di sana. Rasanya lebih seperti berada di pengungsian masal daripada fasilitas rahasia. 

Ada ribuan mantan penerima beasiswa, mereka datang dari berbagai wilayah, kebanyakan dari kota. Di antaranya ada lima wajah yang ku kenal dengan baik, Hendrik, John, Ludwig, Gil, dan Magdalene—aku memanggilnya, Mag. Mereka berada di satu universitas yang sama denganku namun berbeda jurusan. Kalau bukan karena mereka menyapaku, mungkin aku akan hilang sendiri di tengah padang Kamp yang penuh dengan orang-orang asing.

Mereka sudah berbeda dari yang dulu ku ingat, dua tahun lebih sudah tidak pernah bertemu dan pusing dengan urusan masing-masing. Hendrik dan John bekerja sebagai pengacara untuk organisasi sosial milik Mephisto, Ludwig hanya pekerja kantoran biasa, Gil menjadi tentara seperti ayahnya, dan Mag, dia sama sepertiku, ahli sosial dan budaya, namun dia memilih profesi guru di sekolah negeri. 

Kami mengobrol sebelum waktu berkumpul. Semacam basa-basi, karena tak ada satu pun dari kami yang cukup mengerti apa yang perlu dibahas di saat seperti itu. Tak ada satu pun dari kami yang tahu apa yang sekiranya dapat dilakukan oleh sekelompok orang-orang tidak terlatih demi membantu penyelidikan. 

“Kau sudah terlihat jauh lebih dewasa sekarang, Marien,” John memujiku. Pria itu selalu memujiku, tak pernah berubah. Aku rasa dia masih menyimpan rasa sukanya padaku. Dan ku akui memang aku berubah sejak tinggal bersama Elizabeth dan menjalankan usaha bersama pula. 

“Masih lebih tampan kau dengan jenggotmu, ku rasa,” aku balas menggodanya. John dan yang lainnya terkekeh canggung. Aku berpaling menatap Gil yang sedari tadi diam, pria bertubuh besar itu tidak mengucapkan apa-apa sejak tadi, belum lagi wajahnya yang terlihat pucat, membuatku ikut merasa tidak nyaman. “Gil, bagaimana kabarmu?”

“G-Gil masih t-tegang,” Ludwig, pria pucat dan gagap itu, menginterupsi. 

“Maaf aku mau merokok sebentar,” Gil berlalu meninggalkan kami begitu saja. Aku memperhatikannya pergi, menghilang di tengah kerumunan orang. 

“Ada apa?” Tanyaku, melirik wajah canggung kawan-kawanku. 

“Dia harusnya tidak berada di sini,” Mag menjawab dengan suara pelan sekali, nyaris berbisik, wanita kulit hitam itu terlihat sangat berhati-hati.

“Dia baru kembali,” suara Ludwig mengalihkan perhatianku. “Psikiaternya menyarankan dia untuk dibebastugaskan. Tapi dia masih di sini.”

“Tentu saja dia di sini. Ini kesempatan bagus, kawan-kawan,” Hendrik menyahut dengan penuh optimisme. Aku tidak begitu setuju, tapi aku mencoba mendengarkan pendapatnya, berharap menemukan alasan yang sama untuk optimis. “Apa kau tahu hadiahnya bila kita berhasil menangkap pembunuh Jendral Marcus?” Hendrik bertanya tapi tak satu pun dari kami berniat menjawab. Maka pria berambut merah itu segera menjawab pertanyaannya sendiri, “kesempatan untuk benar-benar diakui. Kecerdasan kita akan diakui!”

Aku mencoba untuk tidak melengos. Alasan Hendrik mengingatkanku mengapa aku tidak pernah ingin berhubungan dengan anak-anak penerima beasiswa lainnya. Mereka sombong, haus akan pengakuan. Aku tidak bisa menyalahkan, tapi memang demikian adanya. Kebanyakan kami yang menerima beasiswa itu adalah orang-orang cerdas yang terlalu lama direndahkan di desa. Kami tinggal dikawanan orang-orang bodoh untuk sekian lama. Dan tak ada yang lebih buruk daripada sekumpulan orang-orang jenius dari kelas rendah. 

“Coba lihat dirimu, L-Ludwig,” Hendrik mengejek kegagapan Ludwig, “kau bekerja sebagai pekerja kantoran. Aku dan John hanya pengacara untuk organisasi sosial yang penghasilannya sangat rendah, dan Mag… Oh Mag yang malang, wanita sepintar kau hanya menjadi guru sekolah dasar. Gil harus menanggung malu karena mentalnya terlalu lemah. Lalu, Marien,” Hendrik melempar pandangannya padaku, aku menatapnya dengan tajam untuk membungkam apa pun yang akan keluar dari mulutnya, tapi tidak berhasil, “Marien tidak melanjutkan cita-citanya menjadi penulis.”

“Ya, kalau memang apa yang akan kau katakan itu benar, sebaiknya kita melakukan yang terbaik, bukan?” John berusaha mencairkan suasana, namun bagiku dia hanya menambahkan minyak ke kobaran api. 

Sesaat setelahnya, bel tanda waktu berkumpul herbunyi. Kami berbaris dilapangan, seperti hewan-hewan yang siap dipotong, digolongkan berdasarkan kapan kami menerima beasiswa itu. Kemudian kami dibagi lagi menjadi kelompok kecil berisikan dua belas orang. Aku bersama dengan lima orang temanku tadi. Salah seorang dari kami ditunjuk menjadi pemimpin regu. Mag. Tentu saja. Wanita itu paling disiplin di antara semua orang dalam regu. Dan dia pantas menjadi kapten—begitu kami menyebutnya. 

Regu kami akan tinggal dan beraktivitas di tenda nomor 12, aku ingat sekali. Malam itu juga kami akan mulai. Sebelumnya, anggota intel dan dua belas orang polisi memberi arahan dan memberikan bahan-bahan untuk penyelidikan.

Aku tidak terlalu peduli, jujur saja mereka juga tidak bisa melarangku untuk tidak berpartisi-pasi. Mereka tidak bisa menyakiti kami. Kami terlalu berharga. Kami hanya dipanggil untuk datang, dan aku sudah datang. Selanjutnya, masalah berpartisi pasti atau tidak, itu terserah padaku. Lagi pula segalanya terlalu aneh, dan aku bukan Henrik, aku sudah lelah untuk berkompetisi. Tidakkah mereka lelah? Pikirku mengingat kawanku lainnya dalam regu itu. 

Selagi yang lain di dalam tenda menyiapkan alat peraga, serta bahan-bahan penyelidikan, aku berada di luar, merokok sambil bertelepon dengan Elizabeth. Seharusnya kami tidak bisa berhubungan dengan dunia luar, mereka—polisi dan intel—menyita telepon gengam kami—rasanya seperti sedang ada dalam ujian sekolah lagi. Untung aku pandai berbohong, aku beralasan sedang menelepon bibi yang sakit di desa. Aku bilang bibiku baru bisa beristirahat bila sudah mendengar kabar dariku. Mereka mau tak mau berbaik hati mengembalikan ponselku. Aku tak berniat memberikan ponsel itu kembali pada mereka setelahnya.

“Buruk, segalanya buruk,” curhatku pada Elizabeth. “Tempat ini bagaikan neraka. Rasanya aku kembali ke sekolah lagi.”

“Tentu ada hal lain yang bisa kau sukai di sana,” optimisme Elizabeth sungguh membantuku.

“Ya, kau benar,” aku mendongak ke atas, melihat bintang di langit yang gemerlap indah bagai permata di padang pasir yang hitam kelam. “Aku sudah lama tidak melihat bintang, kadang aku lupa mereka ada.”

Aku bisa membayangkan Elizabeth ikut tersenyum bersamaku saat itu. Aku merindukannya. Aku ingin pulang saat itu juga. Seandainya aku bisa sebebas wanita itu, begitu mudah mencintai, begitu sederhana, apa adanya. Kalau bukan karena belajar dari Elizabeth, mungkin aku akan seperti Hendrik; sombong, tidak pernah bersyukur, dan yang paling jelas telihat adalah tidak pernah mau kalah. 

Apa yang dulu pernah ku kejar, kini kembali dan mengikat hidupku. Aku mendapati diriku sudah kembali ke dalam tenda, bergabung dengan anggota regu yang duduk memulai rapat tanpa menyisihkan satu bangku pun untukku, atau menungguku. Sambil menarik bangku kosong dan duduk di belakang salah satu anggota regu yang tak ku kenal, aku menyadari persaingan yang melelahkan sewaktu sekolah telah dimulai. 

Itu dia, pikirku sambil melihat wajah-wajah anggota regu di sekitarku, itulah wajah-wajah yang haus akan pengakuan, gila kekuasaan dan keinginan untuk menjadi nomor satu. Selalu. Dan tak pernah berubah walau sudah sekian tahun berlalu. 

Kita semua mendambakan kepastian—masa depan, karir gemilang, pendapatan tetap. Karena kepastian membuat kita merasa aman. Namun, kehidupan ini kompleks. Dan aku sudah lelah berada di dalam arena yang sama, persaingan yang sama. Lagi dan lagi, sampai kapan aku harus berlomba membuktikan bahwa dirikulah yang terbaik? 

Melihat orang-orang di dalam tenda itu membuatku merasa terasing. Aku lelah sebelum melakukan apa-apa di sana. Aku memiliki hal lain yang lebih penting dari pengakuan orang lain. Aku rindu rumah. Aku rindu kantor mungilku di pinggiran kota. Aku rindu kamar sempitku. Aku rindu Elizabeth––hari itu aku merindukannya lebih dari apa pun. Mungkin karena di malam itu, di hari yang sama, tak ada satu pun dari kami yang tahu bahwa akan ada kejadian mengejutkan yang akan menggoyahkan ambisi mereka. 

 

***

 

Aku menghentikan ceritaku di situ, lalu meminum teh yang sudah disiapkan oleh Daisy. 

Kulihat perhatian Profesor McCallum masih belum lepas dariku. “Aku hampir lupa, kau ingin menjadi penulis,” ujar Profesor tua itu sambil bangkit berdiri dari kursi kerjanya.

Cal menghampiri lemari di belakangnya, mengeluarkan sebuah buku catatan kosong dan memberikannya padaku sambil duduk kembali di kursinya. “Apa kau masih memiliki bakat terpendam itu, Marien?”

Aku memungut buku catatan itu dari atas meja sambil berpikir, sudah lama sekali aku tidak memikirkan hobi yang dulu ku sukai itu. “Aku tidak tahu, Cal,” jawabku jujur. “Sudah lama sekali rasanya.”

Cal tersenyum miring. “Bagaimana kalau kau tinggal di sini selama beberapa hari?” Pria tua itu berhenti sejenak untuk melihat jam di kantungnya, kemudian kembali menatapku, “sudah hampir petang, ibumu tidak mungkin bisa berada di sini seharian. Dia punya pekerja yang harus diberi makan. Dan pamanmu punya ladang yang harus digarap.”

Cal mengeluarkan pulpen dari saku jasnya dan memberikannya padaku. “Aku akan menyuruh mereka untuk pulang,” ujarnya, “kau bisa tinggal di sini, ambil waktumu untuk menulis kisah itu. Tulis apa saja. Hanya kita berdua yang tahu.”

Setelahnya, profesor itu pergi, meninggalkanku di ruangan kerjanya seorang diri untuk memberitahu ibuku bahwa aku akan baik-baik saja di sini. 

Ya. Aku harap begitu.

Inhumane

Inhumane

Score 6
Status: Completed Type: Author: Released: 2017 Native Language: Bahasa Indonesia
Musim dingin tahun lalu, muda-mudi yang pernah menerima beasiswa dari pemerintah, tiba-tiba dikumpulkan untuk membantu polisi menangani kasus pembunuhan sadis yang menargetkan para Jendral, anggota partai politik, dan para mentri. Marien adalah salah satu penerima beasiswa itu, dan ia mau tak mau terlibat dalam penyelidikan. Anehnya, setelah kasus itu dinyatakan usai, Marien berubah menjadi pemurung. Hanya Marien satu-satunya yang tidak bisa merasa bahagia saat penjahatnya telah ditangkap. Sepertinya ada hal yang Marien ketahui, namun tidak dapat ia ungkapkan pada sembarang orang. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pembunuh berdarah dingin itu? Dan apa yang diketahui oleh Marien sampai tak mudah diceritakan pada orang lain? [[KEBIJAKAN PEMBACA SANGAT DISARANKAN. This story contains graphic depictions of violence, sexuality, strong language, and/or other mature themes.]]   WRITERS OF TOMORROW © ALL RIGHTS RESERVED

Comment

Leave a Reply

Options

not work with dark mode
Reset