Inhumane – Chapter 4

East Coast

Tak mengherankan bagiku bila keesokan harinya saat aku terbangun di ruang rawat, aku mendapat kabar bahwa Mag telah meninggalkan Kamp. Keputusan bagus untuknya, pikirku pada waktu itu. Dan seharusnya aku pun menggunakan alasan kecelakaan malam itu untuk pergi juga.

Sayangnya dokter yang merawat luka pecahan kaca di kaki ku malah merekomendasikan aku untuk menggantikan Mag sebagai ketua regu dengan alasan, “Marien orang yang tahan banting.” 

Saat mendengarkan itu di tenda paramedis, luka jahitan di balik balutan perban langsung terasa nyeri, seolah urat-uratnya tersambung dengan otot-otot jantungku. Aku kecewa. Aku tak tahu harus menganggapnya sebagai pujian atau mimpi buruk. Memang seharusnya aku bersyukur karena ledakan itu hanya melukai kakiku dengan pecahan kaca dan luka bakar, tapi bukan gelar ‘tahan banting’ yang ku harapkan dari itu, aku ingin pulang.

Tentu saja aku menolak tawaran sebagai kapten regu dari Olive, petugas yang ku tanyai malam itu. Aku bilang pada wanita itu, Hendrik lebih cocok, dan mana bisa aku memimpin dengan cedera kaki seperti ini. Dan Olive pun menuruti rekomendasiku. Aku yakin memang Hendrik lah yang pantas, dia pasti lebih menginginkan posisi itu daripada aku yang sudah sekarat secara jiwa dan raga. Lucu memang, mengingat dulu aku sangat ingin memimpin setiap kawanan, tapi belakangan setelah lulus dari sekolah, aku lebih suka sendiri, aku sudah tidak lagi memiliki ambisi.

Sepanjang hari kedua itu, aku bisa beristirahat. Untungnya lagi, aku bisa memegang telepon genggamku tanpa perlu sembunyi-sembunyi. Aku bisa mengobrol bersama Elizabeth melalui pesan singkat.

E: “Apa kau baik-baik saja?”

M: “Tidak, aku berharap bisa pulang seperti Mag.”

E: “Bersabarlah sampai seseorang memecahkan kasusnya, atau mungkin kau bisa menyelesaikan kasus itu cepat-cepat agar bisa pulang.”

M: “Ide bagus, tapi aku sebenarnya lebih penasaran dengan apa yang sedang terjadi di sini, bukan pada pembunuhan itu.”

E: “Maksudnya? Apa yang membuatmu curiga dengan Kamp?”

M: “Kejadian kemarin, kurasa, bukan kebetulan.”

E: “???”

E: “Tolong jelaskan, aku penasaran. Ada apa sebenarnya kemarin?”

M: “Sebelum tabung gas itu meledak, aku melihat selangnya masih baru. Hendrik dan Mag sendiri yang memasang alat-alat peraga itu. Mana mungkin selang gas yang masih baru bisa bocor kalau tidak dilubangi dengan sengaja?”

E: “Tapi untuk apa? Siapa yang melakukannya?”

M: “Mungkin untuk melukai Mag. Mungkin…”

Aku berhenti mengetik pesan itu, karena tiba-tiba terpikir sesuatu. Aku segera beranjak dari tempat tidurku, mengambil tongkat berjalanku kemudian cepat-cepat keluar dari tenda paramedis. Namun begitu sampai di luar aku menyadari, tak ada seorang pun di Kamp yang bisa diajak bicara. Tepat di detik itu, aku merasa benar-benar sendiri.

Segera ku lihat kembali layar ponselku, kemudian melanjutkan pesan yang ingin ku tuliskan pada Elizabeth, lalu mengirimnya.

Isi pesan itu adalah; “Hendrik.”

Inhumane

Inhumane

Score 6
Status: Completed Type: Author: Released: 2017 Native Language: Bahasa Indonesia
Musim dingin tahun lalu, muda-mudi yang pernah menerima beasiswa dari pemerintah, tiba-tiba dikumpulkan untuk membantu polisi menangani kasus pembunuhan sadis yang menargetkan para Jendral, anggota partai politik, dan para mentri. Marien adalah salah satu penerima beasiswa itu, dan ia mau tak mau terlibat dalam penyelidikan. Anehnya, setelah kasus itu dinyatakan usai, Marien berubah menjadi pemurung. Hanya Marien satu-satunya yang tidak bisa merasa bahagia saat penjahatnya telah ditangkap. Sepertinya ada hal yang Marien ketahui, namun tidak dapat ia ungkapkan pada sembarang orang. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pembunuh berdarah dingin itu? Dan apa yang diketahui oleh Marien sampai tak mudah diceritakan pada orang lain? [[KEBIJAKAN PEMBACA SANGAT DISARANKAN. This story contains graphic depictions of violence, sexuality, strong language, and/or other mature themes.]]   WRITERS OF TOMORROW © ALL RIGHTS RESERVED

Comment

Leave a Reply

Options

not work with dark mode
Reset