Inhumane – Chapter 5

Narcissism

Aku hendak menuju tenda regu ku yang lama, tenda nomor 12. Aku berusaha berjalan secepat yang aku bisa dengan kedua tongkat membantu menopang tubuhku. Sungguh aku tak terkejut setelah sampai di tenda itu. Setengahnya sudah hilang ditelan api, yang tersisa adalah puing-puing berwarna hitam.

Awalnya aku berniat melihat hasil dari apa yang telah terjadi, aku ingin tahu seberapa dahsyatnya ledakan malam itu. Dan kemudian aku ingin memastikan dugaanku. Jadi aku berjalan masuk dengan sangat berhati-hati. Sesekali aku memperhatikan sekitaran untuk memastikan tak ada yang mengikuti.

Ketika aku melihat tabung gas sialan yang meledak malam itu, aku bergegas mencari selang yang seharusnya terlempar tak jauh di dekatnya. Namun pencarianku terhenti karena mendengar suara langkah kaki dari dalam tenda. Aku berpaling melihat ke tempat suara itu berasal diantara kegelapan. Perlahan-lahan, sosok yang tinggi tegap itu berjalan ke arahku, ke tempat yang lebih terang.

“Gil?” ujarku tak percaya.

“Marien, apa yang kau lakukan di sini?” kawanku itu terlihat tak kalah heran.

“Harusnya aku yang bertanya, kenapa kau tidak bersama yang lain di tenda baru?” tanyaku.

Gil hanya tertawa. Itu tawa pertama yang kulihat selama kami berada di Kamp. Setelahnya, kami berpindah tempat, duduk merokok di dekat tenda paramedis. Di sana pula Gil menceritakan alasannya padaku, semua, termasuk ceritanya di medan perang yang merubahnya. Dan aku merasakan perubahan itu dari tutur bahasanya yang lemah lembut, dan sikapnya yang mendadak pendiam.

“Aku dulu gegabah, selalu melihat pangkat daripada manusia lainnya, tidak ada solidaritas dalam kamus ku dulu, tapi aku sudah menjadi orang yang berbeda, Marien,” ceritanya. “Gil yang lama sudah mati bersama temanku itu, namanya adalah Ben. Kalau bukan karenanya aku pasti sudah tidak ada di sini sekarang.”

“Itukah sebabnya kau tidak mau banyak bicara sekarang?” tanyaku.

“Ya, aku lebih suka mengawasi daripada terlibat, tidak seperti dulu yang haus akan pujian,” ujarnya, “satu jiwa telah berkorban untukku, dan bagiku hal itu sudah lebih dari semua pujian yang aku perlukan.”

“Dan aku juga melihatmu telah berubah, Marien,” imbuh Gil.

Tak ku pungkiri itu. “Karena Elizabeth,” sahutku. “Dia sahabat terbaikku juga.”

Gil tersenyum, senyuman yang membuatnya terlihat seratus kali lebih tampan dari Gil yang ku kenal di masa lalu, “bagus untukmu.”

Aku senang mendengarnya, aku tak lagi merasa sendiri seperti tadi. Aku tahu tidak hanya aku di sini yang sudah berbeda dari masa sekolah dulu. Gil, pria ini, mungkin bisa ku percaya lebih dari yang lain. Jadi, ketika dia bertanya, mengapa aku kembali ke tenda itu, aku menceritakan kecurigaanku padanya. Dan dia pun merasakan hal yang sama.

“Bagiku tidak masuk akal,” sahut Gil, “semua hal tentang penyelidikan ini sungguh aneh, mulai dari detail kematian sadis yang sebenarnya tidak perlu, dan bagaimana ketika kita disuruh mempraktekannya melalui alat peraga. Lalu ledakan kemarin, sungguh tidak masuk akal.”

“Kau punya dugaan kalau ledakan itu juga disengaja?”

“Tentu.”

“Siapa menurutmu pelakunya?” Aku harus mendengar apa yang Gil pikirkan terlebih dahulu sebelum aku menyebutkan sebuah nama.

Gil tak langsung menjawab dengan perkataan. Matanya memandang jauh ke tanah lapang, dimana para polisi dan anggota intel dikumpulkan untuk persiapan rapat malam ini. Dari situ aku bisa menebak apa yang akan dia katakan.

“Mereka?” Aku menebak ragu.

“Aku melihatmu memprotes pada salah satu pimpinan mereka kemarin malam,” cerita Gil, “sebenarnya wanita itu sudah memperhatikanmu sejak kau datang ke Kamp.”

“Memperhatikanku?” aku terbingung.

“Kau mungkin tidak merasakannya, karena aku sudah melihat dari jauh saat kalian berempat berkumpul. Saat aku bilang aku akan merokok,” Gil mengingatkan, “aku sudah merasa ada yang aneh sejak aku dipanggil, jadi aku melihat situasi dari jauh, mengambil jarak aman.”

“Apa saja yang telah kau lihat?” desakku.

Gil berpaling menatapku dan berkata, “sejauh ini mereka tahu kau tidak tertarik dalam kasus ini, Marien. Dan walau pun kita tidak dituntut untuk peduli, tapi kita tidak bisa terlalu gamblang memperlihatkan bahwa kita tidak tertarik. Mereka memilih kita karena mereka tahu anak-anak seperti apa kita ini.”

“Orang-orang yang narsis dan gila pengakuan, serta rela menginjak-nginjak orang lain untuk sampai di atas,” imbuhku. “Tentu saja,” aku terkekeh menyadari hal itu. Untuk apa lagi kami dipilih membantu kasus ini kalau bukan karena itu, mereka sudah tahu tabiat anak-anak yang pernah menerima beasiswa. Kebanyakan mereka diambil dari daerah-daerah terpencil, orang-orang jenius tapi kampungan. 

“Tapi ada satu hal lagi,” Gil mengalihkan perhatianku, “tujuan Kamp ini, bukan soal menyelesaikan kasus pembunuhan Jendral Marcus. Dan tidak mengetahui tujuan dari ini semua yang membuatku takut.”

Kalau memang benar apa yang diucapkan oleh Gil, pikirku pada waktu itu, kalau memang bukan masalah menangkap pelaku, maka Mephisto pasti punya tujuan lain. 

Dan aku yakin bila pemimpin negara bertangan besi itu punya rencana yang luar biasa busuk. Aku telah melihat bagaimana kemanusiaan memang tak ada di negara ini. Itu seperti perkataan Ayah tiriku, tepat sebelum aku berangkat ke kota dan memulai sekolah dengan beasiswa yang diberikan oleh organisasi Mephisto. 

Kata ayah tiriku hari itu, “aku hanya bisa berdoa agar kau pulang dan tetap menjadi manusia. Kemanusiaan sudah bukan hal yang utama di negara ini. Kau dan aku, kita semua diperlakukan seperti benda mati. Manusia hanya pijakan anak tangga; untuk bisa sampai ke atas kau harus berani menginjak-injak manusia lainnya. Jangan pernah menjadi sama seperti mereka, Marien.”

“Jangan menyelesaikan kasusnya, Marien,” Gil mengingatkan, “jangan mengikuti mereka ke dalam kegelapan.”

“Kalau begitu,” sahutku, “fokus utama kita adalah mencari tujuan dari Kamp ini. Setidaknya kalau kita tahu rencana buruk Mephisto dari sini, kita bisa menghindarinya.”

“Ya,” Gil lagi-lagi tersenyum. Kali ini senyum itu adalah sebuah simbol atas kelegaan hatinya, sepertinya karena ia pun tidak lagi merasa sendiri di tempat laknat bernama Kamp itu. Demikian pula, aku melempar senyuman yang sama.

Inhumane

Inhumane

Score 6
Status: Completed Type: Author: Released: 2017 Native Language: Bahasa Indonesia
Musim dingin tahun lalu, muda-mudi yang pernah menerima beasiswa dari pemerintah, tiba-tiba dikumpulkan untuk membantu polisi menangani kasus pembunuhan sadis yang menargetkan para Jendral, anggota partai politik, dan para mentri. Marien adalah salah satu penerima beasiswa itu, dan ia mau tak mau terlibat dalam penyelidikan. Anehnya, setelah kasus itu dinyatakan usai, Marien berubah menjadi pemurung. Hanya Marien satu-satunya yang tidak bisa merasa bahagia saat penjahatnya telah ditangkap. Sepertinya ada hal yang Marien ketahui, namun tidak dapat ia ungkapkan pada sembarang orang. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pembunuh berdarah dingin itu? Dan apa yang diketahui oleh Marien sampai tak mudah diceritakan pada orang lain? [[KEBIJAKAN PEMBACA SANGAT DISARANKAN. This story contains graphic depictions of violence, sexuality, strong language, and/or other mature themes.]]   WRITERS OF TOMORROW © ALL RIGHTS RESERVED

Comment

Leave a Reply

Options

not work with dark mode
Reset