Inhumane – Chapter 6

Hand of Gold

Ketika terang berganti menjadi gelap di hari kedua itu, tak ada satu pun bintang-bintang di langit yang mau menceritakan rahasianya padaku. Tak sedikit pun aku menerima firasat akan kabar buruk yang akan ku terima di malam hari itu. Yang muncul hanya sepenggal ingatanku akan ayah tiriku di desa, Theo. Theo memang bukan ayah kandungku, tapi dia tetaplah seorang ayah yang tak bisa tergantikan.

Sambil mencoba memejamkan mata di atas tempat tidur paramedis yang keras, aku berusaha mengingat kenanganku tentangnya, tepatnya saat pertama kali kami bertemu di usiaku yang masih 15 tahun, dua tahun sebelum aku menerima beasiswa untuk bersekolah di kota.

“Apa itu manusia?” Theo bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari koran yang sedang ia baca. Aku sempat mengira dia bertanya pada dirinya sendiri sampai dia mengalihkan wajahnya untuk menatapku dan bertanya sekali lagi, “apa itu manusia, Marien?”

Aku meletakkan nampan berisi piring kotor kembali ke atas meja makan dan mencoba menjawab pertanyaannya sambil memgelap tanganku berkali-kali dengan serbet yang kulilit di pinggangku.

“Manusia, makhluk yang bisa berpikir, tidak seperti hewan,” jawabku ragu.

Theo menggeleng. “Manusia adalah makhluk yang memiliki akal budi,” dia mengoreksi. “Manusia tidak sekadar pandai, tapi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan kata itu tidak lepas dari kata, kemanusiaan.” Kemudian dengan santainya dia berdiri dan berjalan meninggalkanku ke halaman belakang rumah.

Saat itu, aku yang masih polos dan bodoh, merasa pria dari kota itu berusaha mempermalukanku. Aku berusaha tidak memikirkan sikapnya itu, aku fokus pada pekerjaan rumah selanjutnya, mencuci piring. Kemudian aku tak bisa menolong diriku untuk memikirkan apa maksud baik dan buruk, dan apa yang membuatku berbeda dengan kerbau di ladang paman, atau kambing-kambing ternak milik ibu di kandang.

Baik dan buruk. Apa itu baik? Dan apa itu buruk? Baik berarti kita berbuat baik? Tapi berbuat baik itu apa? apakah memberikan makanan pada orang yang membutuhkan itu baik? Tentu saja baik. Namun, kenapa banyak orang suka melarang orang lain memberi makan pengemis di jalan dengan alasan dianggap memanjakan orang-orang malas? Jadi, apa perbuatan yang sebetulnya kita anggap baik itu bisa saja terlihat buruk? Sampai mana batasnya?

Selesai mencuci semua piring kotor itu, kepalaku malah terasa pusing karena memikirkan beribu pertanyaan yang tak berdasar. Hatiku begitu ingin tahu, aku ingin tahu apa yang membedakanku dengan hewan, mengapa aku adalah manusia? Dan tanpa sadar, aku telah berdiri di samping ayah tiriku itu, ikut berjalan-jalan bersamanya di halaman belakang. Ku tanyakan semua pertanyaanku padanya. Namun dia malah mengajakku berjalan ke kota, dia mengajakku ke katedral yang letaknya tak jauh dari rumah.

“Aku kira kau atheis,” ujarku pada ayah tiriku itu setiba kami di depan pintu gereja.

“Memang,” jawabnya santai, “tapi apakah aku tidak boleh mengambil ajaran kemanusiaan dari pengetahuan yang paling absurd di bumi ini?”

Aku tidak menjawab karena aku tidak begitu mengerti maksud pertanyaannya. Dia mengajakku masuk dan membawaku ke depan wadah air yang biasanya digunakan umat Katolik membuat tanda salib sebelum memasuki perut gereja.

“Nah, sekarang, buat tanda salib,” Theo menyuruhku.

Aku terdiam. Bingung.

“Kau seorang katolik kan?” dia pun terlihat bingung karena melihatku bingung.

“Ya,” jawabku. 

“Kalau begitu kau tahu cara membuat tanda salib,” ujarnya.

Tentu saja, ujarku dalam hati, perkataannya entah mengapa terasa seperti sengaja menantang. Maka, ku lakukan seperti yang ia suruh. Ku celupkan ujung jari telunjuk dan jari tengahku ke dalam air, lalu menyentuh dahiku dengan mengucap dalam hati, demi nama Bapa. Tanganku turun ke dada, dan Putra. Kemudian ke bahu kanan dan kiri, dan roh kudus. Lalu tanda salib itu berhenti di bibir, amin.

“Apa yang kau mengerti dari tanda salib itu?” Theo bertanya.

Aku menggeleng. Yang aku tahu hanya semua orang katolik yang masuk dalam gereja wajib melakukannya.

“Akal dan budi,” gumam ayah tiriku itu sambil memasukkan dua jarinya ke dalam air. Kemudian dia menirukan caraku membuat tanda salib. “Dalam nama Bapa,” ujarnya sambil menunjuk dahinya. “Kau percaya bahwa Tuhan menciptakan segalanya kan?”

Aku mengangguk tanpa melepas pandanganku darinya.

“Manusia berpikir dan menciptakan dengan akal, letaknya ada di pikiran ini, di kepala,” Theo menjelaskan. Kemudian tangannya turun ke dada, “dan Putra, yang kau sebut Yesus. Ajarannya tentang kasih. Letaknya ada di hati. Kasih, budi, muncul dari hati.”

Lalu dia menunjuk bahu kanan dan kiri, “dan roh kudus.” Ayah tiriku mengakhiri tanda salibnya dengan senyum penuh kemenangan. “Setelah Yesus naik ke surga, roh kudus turun dalam bentuk lidah-lidah api untuk mengingatkanmu setiap saat pada Tuhan dan ajaran kasihnya.”

Dan aku pun akhirnya mengerti. “Keseimbangan,” ujarku tak percaya.

“Ya, Marien,” Theo tersenyum sumringah. “Segalanya adalah tentang keseimbangan. Antara akal dan budi, harus seimbang, agar kau bisa menjadi manusia yang seharusnya.”

“Lalu apa bedanya yang baik dan yang buruk?” tanyaku tak sabaran. “Apa yang disebut baik, dan apa itu buruk?”

“Coba kau rangkum semua yang sudah pernah kau baca dalam kitab dan yang telah kau mengerti selama ini, atau inti dari ‘Sepuluh Perintah Allah’ dan garis besar semua ajaran agama di dunia… tidak merugikan orang lain,” jelas Theo. “Dari situlah ada istilah ‘kemanusiaan’; apabila ada tindakan pelecehan atau yang merugikan orang lain, maka pelakunya dikatakan telah melakukan tindak pelanggaran ‘kemanusiaan’. Sebaliknya, bila suatu daerah atau seseorang mengalami bencana, mereka membutuhkan ‘bantuan kemanusiaan’. 

“Manusia adalah tentang itu; akal dan budi yang sejalan. Manusia mempunyai sifat kemanusiaan, yaitu; tidak merugikan manusia lain. Siapa pun itu, termasuk dirinya, karena dia juga seorang manusia. Apa kau sudah mengerti?” tandasnya.

Aku mengangguk. Kepalaku mengangguk dan hatiku berterimakasih dengan sangat. Mataku telah terbuka sejak hari itu bersamanya. Dan hari-hari seterusnya aku belajar banyak darinya, dan aku tak pernah malu lagi memanggilnya dengan sebutan, Ayah. “Terima kasih,” ujarku selalu.

“Kapan pun, anakku,” sahutnya. “Dengan segala yang telah kau terima dariku, sampai kapan pun aku akan selalu berada di sisimu. Supaya jangan sampai kau menjadi anak yang pintar, tapi tidak menjadi manusia.”

Dan akhirnya kenangan yang berubah menjadi mimpi ku itu terhenti karena dering ponsel ku yang nyaring. Aku tersentak, kembali ke dunia nyata, ke Kamp bersama orang-orang laknat lainnya.

Ku lihat layar ponselku dengan mata setengah mengantuk, lalu ku angkat panggilan itu setelah melihat nama Elizabeth. “Halo,” ujarku dengan suara parau.

“Marien, maafkan aku, aku turut berduka atas kehilanganmu,” ujarnya sambil menangis.

Aku bangkit duduk di atas ranjangku, tak lagi memperdulikan kakiku yang terasa ngilu karena gerakan yang tiba-tiba itu. “Ada apa?!” sahutku panik.

“Ayahmu, dia kecelakaan tadi sore, dan dia sudah tidak ada, Marien, aku sungguh-sungguh minta maaf,” mendengar itu, suara Elizabeth tiba-tiba terasa sangat jauh hingga menghilang. 

Kabar buruk itu mengoyak jiwaku seketika itu juga. Pikiranku kosong, seperti hatiku juga. Ayah tiriku yang ku sayangi dan ku hormati, pria itu sudah tidak ada lagi bersamaku. Apa yang harus ku lakukan? Apa lagi yang harus ku perbuat setelah ini? Nyaris tak ada dunia ideal yang bisa ku gambarkan tanpa kehadirannya.

Inhumane

Inhumane

Score 6
Status: Completed Type: Author: Released: 2017 Native Language: Bahasa Indonesia
Musim dingin tahun lalu, muda-mudi yang pernah menerima beasiswa dari pemerintah, tiba-tiba dikumpulkan untuk membantu polisi menangani kasus pembunuhan sadis yang menargetkan para Jendral, anggota partai politik, dan para mentri. Marien adalah salah satu penerima beasiswa itu, dan ia mau tak mau terlibat dalam penyelidikan. Anehnya, setelah kasus itu dinyatakan usai, Marien berubah menjadi pemurung. Hanya Marien satu-satunya yang tidak bisa merasa bahagia saat penjahatnya telah ditangkap. Sepertinya ada hal yang Marien ketahui, namun tidak dapat ia ungkapkan pada sembarang orang. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pembunuh berdarah dingin itu? Dan apa yang diketahui oleh Marien sampai tak mudah diceritakan pada orang lain? [[KEBIJAKAN PEMBACA SANGAT DISARANKAN. This story contains graphic depictions of violence, sexuality, strong language, and/or other mature themes.]]   WRITERS OF TOMORROW © ALL RIGHTS RESERVED

Comment

Leave a Reply

Options

not work with dark mode
Reset