Inhumane – Chapter 8

Devil’s Laughter

Pembunuh Jendral Marcus, dengan segala kemisteriusannya, menemaniku hampir setiap malam. Saat aku mencoba mengalihkan pikiran dari rasa kehilangan dan kesendirian, aku memikirkan dan bertanya-tanya, mengapa ia memilih cara yang begitu sadis untuk membunuh korbannya? Jelas-jelas si pembunuh adalah orang yang amat pintar. Cerdas, kalau boleh dikatakan. Dalam waktu yang amat-amat singkat, ia mampu mengeksekusi Sang Jendral dengan cara yang telah dipikirkan dan telah diperhitungkan matang-matang.

Aku mulai mengerti mengapa kami, para penerima beasiswa dari pemerintah, ditugaskan membantu polisi memahami jalan pikiran si pembunuh. Mereka ingin kami mencari orang yang sama seperti kami. Tak ada orang pintar, cerdas, dan jenius di negeri ini yang tak mendapatkan beasiswa dari Mephisto––dan menerimanya tanpa meragu. Kalau pun si pembunuh bukan berasal dari desa terpencil seperti kebanyakan dari kami, mereka adalah anak bangsawan, dan sudah pasti Mephisto tahu identitas mereka.

Aku memahami, mengapa para pengawas dan penjaga Kamp tak memberikan informasi lain berkaitan dengan pembunuhan Jendral Marcus; karena memang tak orang asing yang dapat dicurigai, tak ada saksi mata yang memberikan petunjuk, tak ada musuh yang belum tertangkap. Jendral Marcus, seorang yang ditakuti dan dibenci, diagungkan dan dihormati, telah dipermalukan oleh si pembunuh. Pembunuh itu seolah memamerkan kemampuannya, mengejek kami yang kini terjebak di dalam Kamp, berusaha setengah mati memutar otak untuk menebak target selanjutnya. 

Aku bersumpah, aku bisa melihat seringainya saat ku telusuri kembali berkas-berkas detail pembunuhan di atas mejaku. Dia sedang menyeringai pada kami semua di sini. Pada semua penjaga, tentara dan polisi. Dia sedang berbangga hati, berdiri di atas tubuh korbannya yang hancur, ia menantang kami untuk melangkahinya.

Tak ada manusia yang suka dibodohi. Apalagi orang-orang di Kamp. Tiga bulan berlalu begitu lama rasanya. Tanpa hiburan, dipaksa berpikir terus menerus, membuat semua peserta jadi semakin gila dan terobsesi. Di antaranya ada aku, semakin terasing ditinggal waras sendirian. Hendrik, Ludwig, dan John––kawan semasa sekolahku yang tersisa––sudah sibuk sendiri dengan anggota regu yang lain. 

Di tengah kegilaan Kamp, entah bagaimana, ada kabar kalau pembunuhnya akan menyerang lagi di sebuah taman hiburan remaja besok pagi. Katanya dia akan meletakkan sebuah bom di tempat yang pasti akan membunuh banyak anak kecil.

Apa itu hanya karangan? Pikirku. Mungkin mereka yang butuh berlibur, bukan si penjahatnya. Tak ada kliping dari berita yang diberikan pada kami, atau pesan langsung dari pembunuh yang bisa kami selidiki––kalau memang benar mengacu pada kabar pemboman itu.

Jujur saja, aku sudah kehilangan petunjuk. Melihat yang lain menggali kubur mereka masing-masing––memutar otak sampai hampir sinting––membuatku semakin berhati-hati dan tak mau terlalu menaruh terlalu banyak perhatian pada kasus ini. Kejanggalannya tak terelakkan. Tujuan Kamp ini toh sudah jelas, setidaknya bagiku––para pengawas, tentara dan polisi, hanya menggunakan kami untuk menyelami pikiran si pembunuh dengan mengubah kami menjadi pembunuh juga secara perlahan-lahan, tentunya. Aku hanya mengikuti alur permainan. Aku memilih diam dan tak mau banyak bicara. Aku makan, tidur, dan berkumpul seperti yang lain. Tapi aku menolak untuk berkontribusi. Saat aku merasa sudah hampir sinting, aku akan mencari alasan untuk keluar dari tenda dan merokok di luar sambil menatap layar telepon genggamku yang kosong, membayangkan apa yang sedang dikerjakan Elizabeth di kota.

Ketika pagi datang, kami berbaris seperti biasanya di lapangan, aku hanya mengikuti perintah. Kami bergerombol masuk ke dalam bus-bus yang sudah disiapkan. Dan sepanjang perjalanan ke lokasi yang sudah ditentukan, aku duduk sendiri di belakang.

Taman hiburan hari itu sangat ramai dan tampak tak  ada yang mencurigakan sama sekali. Harusnya aku sudah menebak, ini semua hanya permainan konyol. Tapi yang lain menanggapi ancaman bom itu dengan sangat serius. Mereka berlarian ke sana kemari, sementara aku menyendiri, menikmati es krim sambil berjalan-jalan santai. Seorang pengawas wanita yang sempat mengawasiku dengan ketat di hari-hari awal, terlihat tak menyukai sikapku. Tapi aku sudah apatis. Kematian Theo adalah akhir dari kepedulianku. Tak memecahkan kasus ini pun, aku tak akan rugi.

“Hei, kau!” Panggil pengawas itu.

“Ada apa?” Sahutku acuh sambil menikmati es krim.

“Tidakkah kau merasa perlu mencari seperti yang lain?” Ia mulai geram melihat sikapku yang acuh tak acuh.

Aku mengangkat bahu lalu menurunkannya lagi. “Bodo amat,” ujarku sebelum berlalu pergi.

Ketika sedang merokok dan menikmati sinar matahari untuk pertama kali setelah sekian lama. Kenikmatanku berhenti seketika melihat yang lain berbondong-bondong berlarian ke satu arah yang sama di dekat wahana bianglala. Aku memerhatikan mereka saja, sesekali melihat beberapa polisi dan tentara mengevakuasi pengunjung taman hiburan secepat yang mereka bisa. Kelihatannya bom itu sudah ditemukan. Dan entah mengapa aku tak tergerak sedikit pun untuk melihat dan mencari tahu apa yang sedang terjadi sampai aku melihat dua wanita seusiaku––dari regu lain––berjalan santai mengikuti yang lain.

Aku berdiri dan berjalan di belakang mereka. Penasaran. Apa mereka juga sepertiku? Sudah tak peduli, atau malah sudah tahu hasil akhirnya.

“Hei,” aku memanggil mereka.

Keduanya berpaling dan menyapaku hampir berbarengan, “hei.”

“Ada apa?” tanyaku.

“Mereka yakin bomnya sudah ditemukan,” jawab salah satu dari kedua wanita itu.

Wanita yang satu lagi, yang tak menjawab, mengulurkan tangannya untuk berkenalan. “Andrea,” ujarnya. Aku menjabat tangan Andrea lalu ia memperkenalkan temannya, “Martha.”

“Marien,” ujarku memperkenalkan diri.

Kami pun jalan bersama menuju wahana bianglala bersama dengan yang lain. Dalam perjalanan Andrea dan Martha menceritakan siapa diri mereka dan mengapa mereka tak seantusias yang lain.

“Kita tahu sejak awal, ini semua hanya akal-akalan Mephisto,” cerita Martha.

“Lagi pula aneh sekali, masa polisi dan tentara yang sudah bergabung tak bisa menyelesaikan kasus ini sendiri,” keluh Andrea.

Tampaknya mereka pun sepemikiran denganku.

“Bagaimana cara kalian bertahan?” Tanyaku polos.

“Kami tak pernah merasa lebih pintar dari yang lain,” jawab Andrea lalu terkekeh. Martha pun ikut tergelak.

“Kita bodoh dan kita menerimanya dengan lapang dada,” Martha menimpali.

Aku tersenyum, untuk pertama kali setelah sekian lama, mendengar ucapan mereka. Rasanya sudah lama sekali bisa berbicara dengan orang lain seperti ini.

Setibanya kami di dekat bianglala, peserta Kamp membubarkan diri. Tatapan mereka kecewa dan sebagian memiliki tatapan hampa. Bahkan ada juga yang marah-marah seperti orang gila sambil memukul-mukulkan kepalanya ke tiang besi. Aku, Andrea dan Martha, bertukar tatapan bingung.

“Ada apa?” Andrea menarik salah seorang peserta Kamp yang hendak berjalan kembali ke bus.

Bukannya menjawab, orang itu malah menepis tangan Andrea dengan kasarnya dan melengos pergi.

“Dasar sinting,” gumam Andrea kesal.

Aku mengambil inisiatif, menyuruh Andrea dan Martha menunggu di tempat mereka berdiri selagi aku berjalan memasuki wilayah yang dipagari, asal kerumunan peserta kamp sebelum bubar. Aku menghampiri beberapa tentara dan polisi yang masih berdiri memutari suatu titik.

“Ada apa?” tanyaku.

Seorang petugas wanita yang tadi menegurku sewaktu membeli es krim berpaling dan menatapku kesal. “Oh, sekarang kau peduli?” sahutnya kasar.

“Tidak ada bom di sini, kita dikerjai,” sergah seorang pria berpakaian polisi yang berdiri tepat di sebelahku. Ia menunjuk sebuah kotak putih di atas tanah di hadapan kami. Aku berjongkok untuk melihat lebih dekat. Tutup kotaknya sudah dibuka, dan di dalamnya ada sekantong sosis babi yang sudah busuk. Baunya sangat menyengat, membuatku tidak tahan berlama-lama berdiri di sana.

Aku kembali pada Andrea dan Martha yang sudah menunggu. Ku jelaskan pada mereka apa yang telah terjadi. Dan mereka tertawa terbahak-bahak sampai hampir menangis. Aku hanya bisa tersenyum.

“Sudahlah, ini lelucon paling konyol yang pernah ada,” ujar Andrea di sela tawa.

“Lebih baik kita makan siang,” Martha mengusap matanya, bersiap untuk pergi. “Marien, kau mau ikut?”

“Tentu, tapi aku mau merokok sebentar,” jawabku.

“Baiklah, kami ada di restoran di depan pintu masuk, jangan sampai kau tidak datang,” kata Martha sebelum mereka berlalu pergi.

 

Sambil merokok, aku memerhatikan polisi dan tentara yang tadi berdiri berkelompok pergi meninggalkan lokasi. Sekarang hanya aku sendirian di dekat wahana bianglala. Hikmah yang bisa diambil dari kesialan hari ini hanya satu, setidaknya aku bisa bertemu dengan Andrea dan Martha. Atau demikian ku kira sampai aku melihat seorang pria paruh baya, mengenakan setelan jas rapi, muncul entah darimana. Aku sangat yakin sudah tak ada pengunjung yang tersisa di taman hiburan ini. 

Senyumnya aneh, sungguh-sungguh aneh. Seperti seringai daripada senyum biasa. Pria itu berdiri tepat dimana kotak tadi diletakkan. Dia berdiri tegak menatapku, seolah mengenalku. Yang jelas aku tidak mengenalnya. Siapa dia? Apa maunya?

Inhumane

Inhumane

Score 6
Status: Completed Type: Author: Released: 2017 Native Language: Bahasa Indonesia
Musim dingin tahun lalu, muda-mudi yang pernah menerima beasiswa dari pemerintah, tiba-tiba dikumpulkan untuk membantu polisi menangani kasus pembunuhan sadis yang menargetkan para Jendral, anggota partai politik, dan para mentri. Marien adalah salah satu penerima beasiswa itu, dan ia mau tak mau terlibat dalam penyelidikan. Anehnya, setelah kasus itu dinyatakan usai, Marien berubah menjadi pemurung. Hanya Marien satu-satunya yang tidak bisa merasa bahagia saat penjahatnya telah ditangkap. Sepertinya ada hal yang Marien ketahui, namun tidak dapat ia ungkapkan pada sembarang orang. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pembunuh berdarah dingin itu? Dan apa yang diketahui oleh Marien sampai tak mudah diceritakan pada orang lain? [[KEBIJAKAN PEMBACA SANGAT DISARANKAN. This story contains graphic depictions of violence, sexuality, strong language, and/or other mature themes.]]   WRITERS OF TOMORROW © ALL RIGHTS RESERVED

Comment

Leave a Reply

Options

not work with dark mode
Reset