Inhumane – Chapter 9

The Gentle Touch of Death

Aku tidak bisa melupakan kejadian tadi. Selagi Martha dan Andrea mengobrol, aku tenggelam sendiri dalam lamunan. Pria itu memanggil namaku––jelas-jelas namaku yang ia sebut dari mulutnya.

“Marien!” Panggilnya. “Tidakkah kau sedang bersenang-senang sekarang?”

Apa maksudnya dengan ‘bersenang-senang’? Aku hanya ingin pulang.

“Marien!” Serunya lagi, “tidakkah kau ingin menangkapku? Aku sudah membunuh Theo, loh!”

Tanganku mengepal erat-erat, mendengarnya menyebut nama Theo. Dia berusaha memancingku untuk memukulnya. Mencabik wajahnya dengan kuku jemariku.

“Marien, ada apa?” Sentuhan tangan Andrea menyadarkanku dari lamunan. Aku mendapati diriku menggenggam gelas milkshake kuat-kuat, seolah akan melemparnya ke kepala si pria sialan itu.

“Kau diam saja sejak tadi, wajahmu juga pucat,” imbuh Martha.

“Ku rasa aku bertemu dengan pembunuhnya tadi,” gumamku pelan.

Andrea dan Martha bertukar pandang, lalu mereka mencondongkan tubuhnya mendekat ke arahku, ingin tahu apa yang terjadi.

Aku tak tahu apakah mereka bisa sepenuhnya kupercaya, sebab kami baru berkenalan tadi. Tapi, rasanya, aku akan lebih menyesal bila tidak mengatakan hal ini pada mereka. Ku beritahu apa yang kudengar dan kulihat dari orang itu. Dia pria yang jahat. Auranya sungguh berbeda, aku seolah melihat arwah-arwah korban menggentayanginya kemana pun dia pergi. Bulu-bulu halus di sekujur tubuhku berdiri, seolah memberi peringatan, menyuruhku berlari sejauh mungkin darinya. Sorot matanya kosong, seolah tak memiliki jiwa. Pria itu pernah membunuh, bukan hanya sekali, bukan hanya Jendral Marcus. 

“Dia bilang, kalau besok kita tidak bisa menangkap siapa dia, dia akan menyerahkan diri,” ceritaku.

“Aku yakin, peserta yang lain tak akan menyukai hal itu,” gumam Andrea merasa prihatin.

“Kita sudah melihat beberapa orang nyaris sinting di sini,” timpal Martha dengan suara pelan nyaris berbisik. “Kau yakin, belum pernah melihat wajah itu sebelumnya?” Martha bertanya padaku.

Aku menggeleng. Andai saja aku tahu, tapi aku tidak kenal wajah itu, seumur hidup aku tidak pernah mengenal pria sejahat itu.

“Mungkin memang itu maunya,” Andrea menyimpulkan. “Dia sengaja membuat peserta Kamp sinting.”

“Tapi bagaimana dia bisa mengenal Marien?” tanya Martha tak habis pikir.

“Mungkin dia membaca tentang Marien. Tak ada rahasia bagi penerima beasiswa pemerintah, semua tercatat, dan setiap gerakan kita selalu diawasi, bukan?” sahut Andrea.

“Mungkin,” desah Martha pasrah. “Selalu ada banyak sekali kemungkinan.”

“Apa menurut kalian, kita perlu memberitahu yang lain?” tanyaku polos.

Martha dan Andrea baru saja akan menjawab, tiba-tiba teriakan pelayan perempuan terdengar dari kamar mandi. Seisi restoran yang hanya ada peserta Kamp dan para pengawas terkejut dan mendadak riuh. Dua orang polisi berlari menuju kamar mandi, dan tak lama salah satu dari mereka keluar lagi untuk menyuruh semua orang yang berada dalam restoran untuk keluar dengan tenang.

Hampir setengah jam kami berdiri berpanas-panasan di luar. Aku, Andrea dan Martha hanya bisa menebak-nebak, apa yang telah terjadi. Andrea yakin ada peserta yang bunuh diri. Martha bilang, mungkin hanya kecoa. Tapi aku lebih setuju dengan pendapat Andrea. Dan tak lama pendapat Andrea pun dibenarkan oleh kedatangan sebuah ambulans. Empat orang paramedis berlarian ke dalam restoran, lalu keluar bersama-sama membawa kantong jenazah yang sudah terisi mayat.

“Ini yang kutakutkan, Marien,” ujar Andrea padaku, tak melepaskan pandangannya dari kantong mayat yang dibawa oleh paramedis sedikit pun. “Kalau pun kita beritahu peserta lainnya, mereka hanya semakin merasa sengsara.”

“Tak semua orang suka mendengar kebenaran, kalau usaha kerasnya selama ini sia-sia, dan tugas ini hanya kebohongan semata,” tandasnya.

Inhumane

Inhumane

Score 6
Status: Completed Type: Author: Released: 2017 Native Language: Bahasa Indonesia
Musim dingin tahun lalu, muda-mudi yang pernah menerima beasiswa dari pemerintah, tiba-tiba dikumpulkan untuk membantu polisi menangani kasus pembunuhan sadis yang menargetkan para Jendral, anggota partai politik, dan para mentri. Marien adalah salah satu penerima beasiswa itu, dan ia mau tak mau terlibat dalam penyelidikan. Anehnya, setelah kasus itu dinyatakan usai, Marien berubah menjadi pemurung. Hanya Marien satu-satunya yang tidak bisa merasa bahagia saat penjahatnya telah ditangkap. Sepertinya ada hal yang Marien ketahui, namun tidak dapat ia ungkapkan pada sembarang orang. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pembunuh berdarah dingin itu? Dan apa yang diketahui oleh Marien sampai tak mudah diceritakan pada orang lain? [[KEBIJAKAN PEMBACA SANGAT DISARANKAN. This story contains graphic depictions of violence, sexuality, strong language, and/or other mature themes.]]   WRITERS OF TOMORROW © ALL RIGHTS RESERVED

Comment

Leave a Reply

Options

not work with dark mode
Reset